Politik Idul Fitri Jusuf Kalla

Oktober 15, 2007 - Leave a Response

Jusuf Kalla memang lincah. Selain jadi tajir yang sukses, ia juga politisi yang piawai. Lihatlah saat Idul Fitri. Ia kunjungi tokoh-tokoh  yang jadi pundi-pundi suara. Tidak ada sekat kawan atau lawan politik. Mega, Gus Dur, Try, Din, Akbar dan masih banyak lagi. Ia juga tidak terbabani dengan status protokoler sebagai Wapres. Tak ada gengi, seperti banyak pejabat lainnya. Tak merasa political prestige-nya turun, meski dia yang mendatangi dan bukan yang didatangi. Tentu hal itu berbeda dengan Megawati yang sok pasang gengsi tinggi-tinggi. sampai saat ini tetep tidak mau ngaku kalau ia kalah dalam pilres 2004 oleh SBY-JK. Lha kok sekarang malah mau maju lagi. Sopo to Mbak sing arepmilih sampeyan.

Berbeda dengan JK. Meski ia kaya raya, penampilannya sederhana. Lihat saja ia jarang pakai dasi, apalagi jas kayak tokoh partai yang baru jadi anggota dewan. kemana-mana pakai jas, dasi dan lencana. sampai ke kamar mandi pun dipakai. Biar semua orang tahu bahwa ia adalah anggota dewan yang terhormat. Padahal, sebelumnya tukang kredit keliling. TApi begitu aktif di partai “Metal” langsung jadi orang. Maklum kalau, gugup jadi OKB (orang keren baru).

Sedang Kala, biasa saja. Termasuk kunjungan Idul Fitrinya itu. Itu semua akan berbuah satu hal: simpati publik. Tokoh ini populis ya. Tokoh ini merakyat ya. Dan ujung-ujungnya, 2009 saat ia maju sebagai kandidat Presiden, ia berharap dapat dukungan publik yang luas.

Sayang, dia didukung Partai Golkar. Partai ini kan paling berjasa dalam menyengsarakan rakyat selama 30 tahun di era Orde Baru. Anehnya, lha yo kok masih menang lho dalam Pemilu lalu. Pancen, rakyat Indonesia ki terjangkit amnesia politik yang akut, gampang lali terhadap penderitaan politiknya di masa lalu yang disebabkan oleh tingkah polah Golkar yang raja KKN itu. Golkar pancen oye tenan kok. Wis bersalah malah sok jadi pahlawan. Sing aku bingung, partai lain kok yo mau-maunya lho ngekor GOLKAR. Coba lihat dalam Pilkada DKI baru-baru ini. 19 partai, termasuk partai yang mengaku reformis, seperti PAN, PKB, Demokrat, nurut saja di-plekotho (maaf, ini bahasa planet UFO) Golkar, untuk bareng-bareng nyalonkan si Foke dan ngroyok “anak bawang” kemarin sore, PKS. Katanya mengklaim asli Betawi, kok main keroyok. Mana ada jawara Betawi yang maen keroyok. Lihat si Pitung. Meski sendiri berani dia hadapi Londo gendeng. Ee……ini beraninya maen keroyok. Kalau aku sih, malu. Itu mah, kesatria baja hitam, tokoh kartun  yang digemari anak-anak. Tapi wong dasar politisi, sing penting menang. Yo to ? Terus dapat kapling dari Fauzi Bowo. Wong namanya politik, itu tidak ada yang free. “Tak ada makan siang gratis,” begitu kata dosenku dalam politik. Politik itu, kata dosenku mengutip Harold D Laswell , adalah persoalan who gets what, when and how. Jadi semboyan Jakarta Untuk Semua dalam Pilkada lalu, memang sangat tepat. Artinya, “Jakarta Untuk Semua” tokoh partai pendukung. “Lha untuk rakyat, mana ?” tanyaku sebagai warga Jakarta yang kemaren kagak didaftar sama KPUD yang pro Foke. Rakyat? Rakyat, siapa rakyat ? Rakyat itu hanya penting saat pemilihan. saat itu, mereka seperti raja. Politisi rela menyembah-nyembah kepadanya, hadir di pemukimannya, menangis di dekatnya melihat derai derita lara rakyat, dan tak lupa menabur janji akan mengentaskan kehidupan mereka sebagai wong cilik. Yang penting: mereka berikan suaranya dalam pemilu pada politisi partai. Tetapi, setelah pemilu, selamat tinggal rakyat. Sayonara. sory, aku tak mengenalmu. Aku sibuk membalas budi, dukungan 20 paratu dalam pilkada lalu. kalau masih ada sisa, barulah nanti buatmu semua. Duh, kasihan deh lu, rakyat. “Emang enak jadi rakyat?”

Eee kok nglantur ke mana-mana. Kembali ke manuver Jusuf Kalla. Dia itu orang baik. syangnya kokok didukung si penunggu pohon beringin itu ya. Hii…….seram. Ada sih, orang Golkar yang baik, bahkan banyak. Tapi, kultur di dalamnya itu sudah sulit melepas model-model KKN seperti jaman Orba dulu.  

Ya..tapi terserah rakyatlah. mau milih mana. Ini kan jaman demokrasi. Yang penting pintar menarik simpati, dan piawai mengelabui lagi, seolah-olah peduli pada nasib rakyat di hari nanti, tak lupa sambil sedikit memberi upeti, yaah  rakyat di 2009 nanti akan terkiprit-kiprit (iki yo bahasa langit) milih Golkar atau PDI lagi. Partai yang bersih dan peduli, hanya dikagumi tapi tak dipilih. Capeh…deh. Yo wis embuh, moso bodhoha. Sing penting, selamat Idul Fitri, mohon maaf karena telah mencurigai politisi. Kalau nggak mau dicurigai ya jangan jadi politisi, Jadi rakyat kecil, kayak saya ini. Ora ono sing curiga, ora ono sing marah-marah, ora ono sing nagih janji dan……..ora ono sing ndukung! Yahh……………nasib, nasib. taqabalallahu minna wa minkum, met makan ketupat ya. (Pakdhe Bush)

Melestarikan Nilai-nilai Ramadhan

Oktober 13, 2007 - Leave a Response

Dunia Damai Tanpa George Bush

Oktober 8, 2007 - Leave a Response

bush-crazy-man.jpgSejak George Bush menjadi Presiden AS, dunia diwarnai dengan saling tuduh, saling ancam dan saling perang. Perang melawan terorisme hanyalah dalih belaka agar dia punya alasan untuk melakukan intervensi dan bahkan invansi ke berbagai kawasan dengan alibi mengejar teroris. Nyatanya, sejak dia tabuh gendang perang melawan terorisme, yang dia sebut tugas dari Tuhan (Yesus), dunia justru penuh gejolak. Jangan bermimpi membangun perdamaian di bumi ini sepanjang George Bush dan konco-konconya masih memegang kendali kekuasaan. George gedebuhs tidak sadar kalau ia dikendalikan kekuatan Zionis internasional yang mengabdi pada kepentingan Israel.  Selamatkan dunia dari ambisi George Bush, The Real Terrorist in the World.

Halo dunia!

Oktober 7, 2007 - 6 Tanggapan

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!